Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJul 19, '09 10:44 PM
for everyone

 

 

Suatu hal yang patut kita syukuri tatkala Sang Penguasa Waktu masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa mengikuti kajian PARIS di Masjid Agung Sunda Kelapa pada Jumat, 3 Juli 2009 (10 Rajab 1430 Hijriah) yang membahas mengenai Berkomunikasi dengan Cara Rasul oleh Ust.H. Syahroni Madani, Lc.

 

Bagaimanakah berkomunikasi ala rasul?

·         Rasullullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sosok yang fasih berbicara. Sedikit bicara namun penuh makna, mudah dimengerti, dan tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara.

Ketika ada yang salah dan harus dihukum, maka dihukum dengan adil tanpa harus menghinakannya. Karena ketika diri terbawa nafsu ikut menghinakan orang sudah berbuat salah namun sudah menyadari dan menyesali kesalahannya maka bagaikan kita sedang membantu syetan dalam mengotori hati. Hati kita menjadi terkotori karena tidak bias mengendalikan hawa nafsu sedangkan orang yang berbuat salah menjadi putus asa merasa tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya sehingga bisa jadi membuat ia memutuskan untuk meneruskan kesalahannya karena menyesalpun tetap akan dihina.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, dibawa ke hadapan nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang tertangkap telah mabuk (minum khamar). Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “hukumlah dia (pukullah)”. Maka di antara kami ada yang memukul dengan tangannya, dengan sendalnya, juga ada yang dengan kain. Ketika telah selesai pergilah orang itu, namun ada seorang sahabat yang berkata padanya, “semoga Allah menghinakan kamu!!!”. Mendengar itu rasulullah berkata, “janganlah kau berkata seperti itu padanya. Jangan kamu membantu syetan (dalam menyesatkan orang itu)”

(HR. Imam Bukhari)

Menurut hadist riwayat Iman Bukhari di atas jelas bahwasanya orang yang salah hendaknya dihukum untuk selanjutnya diberikan motivasi untuk melakukan perbaikan diri bukan untuk dihinakan.

 

·         Berkata-kata yang baik ketika mendapat musibah

Dari Ummi Salamah berkata, aku mendengar rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “barangsiapa yang mendapatkan musibah kemudian mengucapkan “Sesungguhnya semua datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah ini dan berikanlah ganti yang lebih baik”. Ummu Salamah berkata lagi, “Saat suamiku meninggal, aku mengucapkan seperti yang Rasul ullah ajarkan padaku, dan kemudian Allah menggantikan aku yang lebih baik, yaitu (aku menikah dengan) Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam

(HR. Muslim)

·         Berkata-kata yang baik atas orang yang sudah meninggal kecuali untuk penulisan sejarah maka ditulis sewajarnya berdasarkan fakta yang ada.

Sungguh kemuliaan untuk orang yang memulai kebaikan, meskipun penerusnya melakukannya lebih baik

Aisyah radhiyallahu anha berkata Rasullullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah menghina orang yang sudah meninggal dunia, karena mereka telah melakukan apa yang dapat mereka perbuat

(HR. Imam Bukhari)

 

·         Berbicara yang baik kepada yang bukan ahli waris/tidak mendapat waris

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا ﴿٨﴾

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat , anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.

(An-Nisa QS. 4:8)

 

 

·         Rasul berpesan kepada perempuan untuk berbicara dengan cara yang baik dengan tidak mempermainkan suaranya.

 

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوفًا ﴿٣٢﴾

 

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya , dan ucapkanlah perkataan yang baik,

(Al-Ahzab, QS. 33:32)

 

 

·         Ketika ditanya, “anda siapa?”, maka sebutkan namamu

 

Jabir radhiyallahu anhu berkata, Aku berkunjung ke rumah Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku ketuk pintunya dan Beliau bertanya, “Siapa ini (di luar)?” Maka kujawab, “Aku”. Kemudian Rasulullah berkata, “Aku..Aku..”, seolah Beliau sangat tidak suka (dengan jawaban aku..aku..)

(Mutaqqah Alaih)

 

 

·         Berdakwah dengan cara yang terbaik yaitu dengan lemah lembut

 

Ketika harus berbicara dengan orang yang susah dinasehati dengan kenenaran dan kebaikan mak berbicaralah dengan hikmah, yaitu memberikan nasehat dengan ucapan yang baik dan kalaupun harus berdebat (jidal) maka lakukan dengan cara yang paling baik. Sesungguhnya jidal diperbolehkan namun kurang disukai oleh Allah. Ada sebuah hadist yang menyatakan bahwasanay di tengah surga ada tempat khusus bagi mereka yang meninggalkan debat meskipun ia benar. Secara hukum Islam, sesungguhnya setiap manusia adalah obyek dakwah, namun menurut aturan yang berlaku di Indonesia dengan pertimbangan menjaga keharmonisan dalam keberagaman maka dilarang untuk berdakwah kepada orang yang sudah beragama.

 

 

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ ﴿٤٤﴾

   

     Maka berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepdanya (firaun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau menjadi takut

    

     (Thaha, QS. 20: 44)

 

 

·         Berkata yang baik pada saat khitbah

      Ketika seorang hendak menolak khitbah maka penolakan itu harus berdasarkan kualitas agama (diakui oleh semua madzab) dan juga karena status sosial ekonomi (syarat tambahan menurut madzab iman syafi’i)

 

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَـٰكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَن تَقُولُوا قَوْلًا مَّعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ ﴿٢٣٥﴾

     

     Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf . Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

      (Al-Baqarah, QS. 2:235)

 

 

·         Berkata yang baik saat memegang amanah.

 

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا ﴿٥﴾

 

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya , harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

(An-Nisa, QS. 4:5).

 

 

·         Sabar dan tiada batasan untuk sabar

 

 

Ketika mendapati diri mendapat fitnah maka jika perlu dilakukan klarifikasi maka lakukan dengan sabar. Jika memungkinkan maka nasehatkan kebenaran kepada orang yang menyebarkan fitnah agar tersadar dari kesalahannya. Akrena jika kebaikan kita dibalas dengan keburukan namun kita seolah “cuek” maka ibaratnya kita sedang memberikan bara api kepada orang yang membalas keburkan akan setiap kebaikan, ada kewajiban bagi kita untuk menasehatinya, minimal mendoakannya agar suatu saat diberikan hidayah oleh Allah. Sesungguhnya orang yang menuduh tanpa bukti maka hukumannya adalah 80 kali cambuk. Sedangkan memaafkan adalah sikap yang mulia. Pernah suatu ketika rasulullah dan aisyah seang berjalan dan di tengah berjalan bertemu dengan orang kafir yang mengucap salam ‘asam alaika’. Kemudian aisyah menjawab dengan jawaban panjang  yang disertai doa keburukan atas orang kafir itu, kemudian rasul menasehatinya bahwanya hendaknya cukup dijawab dengan “wa alaika”.

 

 

Sungguh perbuatan yang mencerminkan akhlak mulia memberikan efek yang jauh lebih dahysat dibandingkan dengan sekedar lisan. Oleh karenanya siapkan diri untuk mengamalkan akhlak seperti yang dicontohkan rasul baik dalam bertutur kata maupun berbuat. Siap? Insya Allah.

 


bundanaznin wrote on Jul 20, '09
ulfa7 said
Sungguh perbuatan yang mencerminkan akhlak mulia memberikan efek yang jauh lebih dahysat dibandingkan dengan sekedar lisan.
hal ini berlaku untuk tulisan juga ngga jeng???
;-)
ulfa7 wrote on Jul 20, '09
menurut dirimu gmn jeng? :)

justru penyampaian melalui tulisan harus lebih diberi perhatian ekstra, untuk menghindari salah persepsi/salah tafsir..memang komunikasi paling efektif adalah direct communication..kita bisa tau intonasi dan mimik orang yg berbicara shg lbh mudah menangkap maksudnya...

kita sama2 dari bidang studi telekomunikasi sayangnya yg dipelajari bukan komunikasi yg seperti ini ya..tp sinyal2..masih ingat SKD (Sistem Komunikasi Digital)..hihihihi
Comment deleted at the request of the author.
bundanaznin wrote on Jul 21, '09
ulfa7 said
tp sinyal2..masih ingat SKD (Sistem Komunikasi Digital)..hihihihi
ya iyalah kan teknik, hihihi...kecuali ngambil fisip lain lagi ceritanya

ilmu SKD itu masih aku pake sampe detik ini;-)...
cuma udah yang terapan (aplikasi), untuk teori dasarnya masih kepake semua
ulfa7 wrote on Jul 21, '09
oya? dulu dosennya dapetnya p.wirawan bukan? kalo aku ilmu yg kepake antena ma satelit..alhamdulillah dulu yg ngajar p. Gam..kalo pas jadi trainer aku suka niruin gayanya p.Gam waktu ngajar deh...hehehe..
finokio wrote on Nov 5, '10
jazakallah. artikel yang bagus. Saya mohon izin untuk mensharenya dalam web http://cara-muhammad.com
ulfa7 wrote on Nov 16, '10
silahkan..mudah2an bermanfaat :)
Add a Comment